Server KPU Dibobol, Analisa Teknologi

Diposting pada

Sebagaimana kita telah tahu bahwa telah beredar informasi tentang di bobolnya server KPU yang berada di Singapura oleh pihak tertentu sehingga bisa mempengaruhi perhitungan final hasil Pemilu pada april 2019 nanti. Terlepas benar atau tidaknya informasi tersebut, yuk kita mencoba membaca kemungkinan-kemungkinannya jika di pandang dari analisa teknologi.

Menurut Mahfud MD menganggap bahwa hal tersebut tidak mungkin terjadi, karena hasil pemungutan suara pada proses Pemilu di catat oleh petugas-petugas di setiap Tempat Pemungutan Suara ( TPS ) di berbagai tempat. Perhitungannya berurutan dari level ke level, di hitung secara manual dan disetujui oleh berbagai pihak dengan tanda tangan dan stempel basah.

Namun berdasarkan penuturan Arief Budiman, ketua KPU sebagaimana dilansir kompas.com bahwa KPU telah bekerjasama dengan berbagai pihak di dalam negeri sehingga system perhitungan Pemilu 2019 akan terjamin keamanannya walaupun ada ancaman serangan dari hacker.

Statement “ancaman dari hacker” ini menunjukkan bahwa perhitungan suara hasil Pemilu pasti melibatkan perangkat lunak ( software ). Tentu ini berbeda dengan analisa yang disampaikan oleh Mahfud MD. Karena kata Hacker dikenal dengan pembajak yang membajak perangkat lunak.

Baca juga :   Pegawai KPU Harus Baca Ini

Lalu bagaimana kemungkinan Hacker bisa mengacak-acak hasil perhitungan suara ? Tentu yang menjadi targetnya adalah system perhitungannya itu sendiri atau yang dikenal dengan Situng. Melihat pola geografis di negara kita, Indonesia, yang terpisahkan dari tempat dengan tempat lain oleh lautan dan selat-selat, rasanya tidak mungkin tidak melibatkan system online untuk mempersingkat proses perhitungan, nah disinilah titik yang bisa dimanfaatkan oleh hacker.

Lalu bagaimana jika benar-benar tidak memanfaatkan system online ? Bagaimana Hacker bisa masuk untuk merubah hasil perhitungan ?

Tentu kita masih ingat kejadian pada 8/2/2019 bulan kemarin di Pamekasan Madura, sebagaimana dikisahkan di harian Republika terkait pengiriman surat suara di malam hari tanpa pengawalan dari aparat. Teknis pengiriman surat suara yang seperti ini bisa saja dimanfaatkan oleh Hacker offline.

Lalu bagaimana suara rakyat Indonesia yang ada di Luar Negeri. Karena letaknya sangat jauh, maka besar sekali kemungkinan di manipulasi jika kurang ada pengamanan selama proses pengiriman hasil suara ke pusat di Jakarta. Jika di kirim secara online harus menggunakan system yang benar-benar memiliki tingkat security tinggi. Jika di kirim secara offline maka pihak-pihak yang terlibat harus 100% netral dan memiliki semangat untuk menjaga originalitas hasil suara, sehingga tidak ada celah untuk dirubahnya isi kotak suara. Hacker offline juga tetap saja bisa bekerja pada kondisi seperti ini.

Baca juga :   Google Plus Tamat Riwayatnya, Bagaimana data di akun Google

Jika kita langsung menuju pokok bahasan, terkait dengan adanya server KPU di luar negeri maka ini tentu saja melibatkan system online. Walaupun mungkin servernya ada di dalam negeri itu tidak jadi masalah, karena system online itu bisa diakses dari manapun di seluruh dunia. Bagi Hacker online tentu bisa saja masuk ke system dengan cara mereka. Namanya juga hacker, tidak ada yang tidak bisa abgi mereka. Jadi jika memang KPU memiliki server online maka kemungkinan di bajak hacker selalu ada. Jadi harus memiliki system yang high security agar aman dari gangguan hacker.

Jika tidak online namun proses penghitungan suaranya menggunakan aplikasi software, tentu pembagian aplikasinya ke seluruh TPS menggunakan perangkat online, ini juga rawan hacker. Bahkan aplikasinya itu sendiri bisa di rubah sedemikian rupa. Misalnya jika kita membuat contoh sederhana, pada kolom tertentu hasil perhitungan 10 suara di tambah 10 suara menjadi 15, bukan 20, ini bisa saja dilakukan pada software tersebut.

Baca juga :   Teknologi 5G, Indonesia Siap Menikmati

Jadi kesimpulannya adalah, terlepas dari benar tidaknya informasi terkait dibobolnya server KPU oleh Hacker, dengan system offline maupun online, Hacker tetap saja bisa mengganggu hasil perhitungan suara Pemilu dengan berbagai cara. Jadi KPU dalam hal ini tidak boleh lengah sedikitpun. Jika memang melibatkan system perhitungan ( Situng ) yang online maka harus memiliki tingkat security yang sangat tinggi dan di support oleh perhitungan manual offline yang dijaga ketat oleh pihak aparat yang netral dan tidak berpihak ke pasangan tertentu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *